
Setiap sebuah klub memiliki stadion baru yang indah, itu selalu memunculkan banyak impian. Vince Taylor dari Groundtastic, membahas beberapa stadion lama yang terkenal yang kini sudah tak berdiri lagi.
1. Sunderland (Roker Park)
ROKER PARK
Dibuka 1897
Ditutup 1997
Rekor penonton 22,500
ROKER PARK
Dibuka 1897
Ditutup 1997
Rekor penonton 22,500
Namun, Roker dinilai tidak mengikuti perkembangan jaman di mana stadion masa kini mewajibkan semua penonton duduk dan akhirnya ditutup pada usianya yang ke-100 di tahun 1997. Area ini sekarang menjadi perumahan.
Roker Park in 1985/86: Tribun utama. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
Roker Park pada 1985/86: The Fulwell End. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
2. Hull City (Boothferry Park)
Ditutup 2002
Rekor penonton 40,179
Penggemar Hull City datang ke stadion baru mereka, dengan 55.019 orang menyaksikan pertandingan Piala FA menghadapi Manchester United pada musim 1948/49. Untuk beberapa waktu stadion ini bahkan memiliki jalur kereta api mereka sendiri: Boothferry Park Halt. Pada 1963 dibangun enam lampu sorot di stadion ini.
Pada tahun 2002, The Tiger pindah ke KC Stadium, dan Boothferry Park perlahan pun usang. Supermarket Kwik Save and Iceland ditutup pada tahun 2007, pembongkaran dimulai pada 2008 dan lampu sorot dibongkar seluruhnya di tahun 2011. Sekarang tempat itu dijadikan wilayah perumahan.

Tribun Barat Boothferry Park di musim 1985/86. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
3. Derby County (Baseball Ground)
BASEBALL GROUND
Dibuka 1895
Ditutup 1997
Rekor penonton 42,000
Brian Clough sering berbicara sepak bola harus digelar di lapangan sepak bola, tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan bagi Derby County yang harus bermain di Baseball Ground.
BASEBALL GROUND
Dibuka 1895
Ditutup 1997
Rekor penonton 42,000
Brian Clough sering berbicara sepak bola harus digelar di lapangan sepak bola, tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan bagi Derby County yang harus bermain di Baseball Ground.
Stadion ini awalnya memang menjadi venue pertandingan bisbol; sampai Derby County pindah ke sana pada tahun 1895, mereka sebelumnya bahkan bermain di lapangan kriket di tengah arena balap. Atmosfer stadion ini menjadi lebih baik di masa Brian Clough pada tahun 1969 dengan rekor penonton mencapai 41.826 orang, ketika klub ini berhasil promosi dan tribun Ley yang baru menjadi salah satu dari beberapa alasan mengapa stadion kontemporer Inggris memiliki tribun untuk duduk dan berdiri di keempat sisi tribun mereka.
Setelah Pride Park, dibuka pada tahun 1997, tim cadangan Derby bermain di Baseball hingga tahun 2003, di mana akhirnya area ini juga menjadi perumahan.
Baseball Ground pada 1986/87, dengan para fans yang berkumpul sebelum kick-off. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
Baseball Ground pada 1986/87: pemandangan dari tribun Osmaston. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
4.
Huddersfield Town (Leeds Road)
LEEDS ROAD
Dibuka 1908
Ditutup 1994
Rekor penonton 67,037
Sebagian besar lapangan sepak bola
Inggris adalah penemuan dari seorang insinyur sipil Skotlandia bernama
Archibald Leitch. Dari 1899 hingga Perang Dunia Kedua, hampir setiap lapangan
besar di Inggris dirancang olehnya atau meminjam hasil desainnya.
Jadi ketika klub profesional baru
Huddersfield Town ingin bergabung dengan Football League pada satu dekade
pertama dari abad 20, hanya ada satu orang yang dibutuhkan. Leitch merancang
4.000 kursi Tribun Utama, sisanya tempat duduk terasering (tanpa bangku),
kapasitas keseluruhan adalah 34 ribu penonton dan Town akhirnya memakainya.
Rekor 67.037 penonton tercatat pada tahun 1932 untuk pertandingan Piala FA melawan Arsenal, yang dipimpin oleh mantan pemain Town yang mempersembahkan gelar juara, Herbert Chapman. Tapi kapasitas stadion turun ini hingga ke angka 17 ribu penonton pada saat Terriers meninggalkannya pada tahun 1994 ke Stadion Alfred McAlpine.
Leeds Road di musim 1985/86: The Cowshed, Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
Leeds Road, pada musim 1985/86: Tampak samping tribun, pemandangan paling terkenal. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
5. Walsall (Fellows Park)
FELLOWS PARK
Dibuka 1896
Ditutup 1990
Rekor
penonton 25,453
Untuk
menggambarkan Walsall sebagai salah satu tim yang melejit untuk semusim saja
adalah penilaian yang tidak adil, tapi pertandingan yang akan selalu diingat
adalah pertandingan Putaran Ketiga Piala FA melawan Arsenal di musim 1932/33,
di mana tim Utara Divisi III mengalahkan Arsenal 2-0.
Kerumunan 25.000
penonton memenuhi Fellows Park hari itu, banyak dari mereka menempati
teras tertutup yang baru dibuka di tribun Populer Side. Agar jadi saksi mata
abadi, pada rentang era terbaik Walsall hingga pembongkaran Fellows Park di
tahun 1990, struktur tanah dasarnya dibiarkan tetap sama.
Dibuka pada
tahun 1895, stadion ini awalnya dinamai Hillary Street sampai 1930, ketika
namanya diganti dengan seorang nama anggota dewan klub. The Saddlers
mempertahankan sejarah stadion ini dengan memberi nama HL Fellows pada salah
satu tribunnya; area Fellows Park kini berubah menjadi supermarket Morrison.

Foto dari Fellows Park di 1985/86. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic

Fellows Park tutup di akhir musim 1985/86. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
6. Wimbledon (Plough Lane)
PLOUGH LANE
Dibuka 1912
Ditutup 2001
Rekor
penonton 18,000
Dicintai oleh
penggemar Wimbledon tapi dibenci oleh pemain dan pendukung tim tamu, Plough
Lane berawal dari area bekas rawa menjadi salah satu venue pertandingan liga
sepak bola tertinggi di Inggris.
Saat Wimbledon
bangkit dari Southern League ke Divisi Pertama, Plough Lane tetap tidak
berubah. Tribun utama dan sebelum tribun West Stand yang berlawanan tidak cukup
merentang untuk membentuk panjang lapangan yang diharapkan, tribun West Terrace
memiliki atap yang minim dan tribun Wandle End untuk suporter tandang bahkan
sama sekali tanpa atap. Tapi ketika Wimbledon pindah ke Selhurst Park pada
tahun 1991 untuk sementara, jiwa klub ini seolah ikut terkoyak.
Namun AFC
Wimbledon sepertinya akan kembali ke sana sebagai bagian dari rencana untuk
mengembangkan Stadion Wimbledon Greyhound yang berdekatan dengan stadion Plough
Lane.

Teras Barat Plough Lane pada 1973/74. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic

Tribun Selatan di Plough Lane pada 1973/74; Wimbledon masih bermain di Southern League. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
7. Middlesbrough (Ayresome Park)
AYRESOME PARK
Dibuka 1903
Ditutup 1995
Rekor
penonton 53,802
Pada satu waktu
Middlesbrough menayangkan sebuah program yang mengulas Stadion Ayresome Park
sebagai tempat yang dikelilingi oleh beberapa cerobong asap dan Middlesbrough
Transporter Bridge.
Ayresome Park
adalah simbol hidup dari sebuah kota yang pernah ditata sendiri oleh
Ironopolis. Area tanah, termasuk tribun North Stand, bertahan dari 1903 hingga
laga terakhir The Boro pada 1995, saat mereka kembali promosi ke Premier
League.
Gerbang stadion,
yang sayangnya dikunci oleh petugas pengadilan pada tahun 1986 dan akhirnya
memaksa Boro memainkan pertandingan kandang mereka di Hartlepool, kini telah
didirikan kembali di Stadion Riverside yang baru; Ayresome Park kemudian sempat
menjadi tempat latihan Boro, tapi sekarang menjadi area perumahan.

Pemandangan dari pertandingan terakhir dari the East End di Ayresome's last match. Foto oleh John Higgins, Majalah Groundtastic

Tribun Utara di Ayresome Park saat pertandingan terakhir, 30 Apr 1995. Foto oleh John Higgins, Majalah Groundtastic
8. Wigan Athletic (Springfield Park)
SPRINGFIELD
PARK
Dibuka 1897
Ditutup 1999
Rekor
penonton 30,443
Dibuka pada
tahun 1897, Springfield Park menjadi stadion sepak bola yang disewa empat klub
sekaligus, Wigan County, Wigan United, Wigan Town dan Wigan Borough. Keempat
klub ini juga menggunakan Springfield Park sebagai arena rugby, gulat, balapan
kuda dan bersepeda.
Borough berhasil
masuk ke Football League, namun mengundurkan diri pada tahun 1931, dan Wigan
menunggu 47 tahun sebelum bergabung The Latics kembali ke Divisi Utama. Pada
saat itu kapasitas Springfield Park mencapai 30.000 penonton, tetapi pada 1990
menyusut hingga 7.201 penonton.
Wigan
meninggalkan Springfield pada tahun 1999, dan pada tahun 2005 mendapatkan
lapangan yang dijanjikan untuk menggelar laga Premier League.

Tribun utama Springfield Park tahun 1975, tiga tahun sebelum Wigan bergabung di liga. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic

Bagian paling terkenal dari Springfield Park di tahun 1975. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
9. Darlington (Feethams)
FEETHAMS
Dibuka 1883
Ditutup 2003
Rekor
penonton 21,023
Dari semua
kejahatan George Reynolds, mungkin yang paling menyakitkan adalah penghancuran
Feethams. Karena kesombongannya, pada tahun 2003 Darlington meninggalkan
lapangan yang indah, di mana klub sudah bermain di sana sejak 1883.
Untuk klub
berjuluk The Quaker, Feethams adalah simbol. Setelah masuk melalui pintu putar,
penukung tuan rumah akan berjalan melewati lapangan kriket yang berada di depan
lapangan - dan selama bertahun-tahun, penggemar bisa berpindah tontonan saat
turun minum.
Hanya sekali
dalam sejarah pendukung Darlington yang datang ke Feethams mencapai rata-rata
10 ribu orang, jadi bagaimana mereka akan mengisi stadion berkapasitas 25 ribu
orang yang berada di luar kota dan menghabiskan dana 18 juta pound masih
menjadi tanda tanya. Sayangnya, perobohan Feethams akhirnya menyebabkan
penutupan Darlington FC sendiri, meskipun mereka kembali membentuk klub bernama
Darlington 1883.

Feethams' barrel-roofed di tribun timur pada 1987. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic

Tribun Barat Feethams pada 1978. Foto oleh Bob Lilliman, Majalah Groundtastic
10. Bolton Wanderers (Burnden Park)
BURNDEN PARK
Dibuka 1895
Ditutup 1997
Rekor
penonton 70,000
Ini merupakan
lapangan sepak bola profesional pertama di kawasan barat laut Inggris, dan
Burnden Park memiliki ciri khas di eranya: tribun unik - di sisi Manchester
Road, di mana tribun West Stand seolah-olah tertekuk ke arah gawang - dan teras
yang luas.
Tanggul besar di
ujung stadion ini adalah tempat terjadinya tragedi kerusuhan penonton pada 1946
yang merengut 33 nyawa; empat dekade kemudian, setengah dari area itu dijual ke
supermarket untuk mencegah kebangkrutan klub.
Lebih dari satu
dekade kemudian, pada tahun 1997, klub direlokasi, tidak hanya dari Burnden
tapi juga dari kota itu sendiri, ke area terpencil di Lostock dan mendapatkan
bangunan yang kemudian dinamai Stadion Reebok.

Burnden Park di tahun 1997: The Lever End, dari tribun sayap. Foto oleh Paul Claydon, Majalah Groundtastic

Burnden Park di tahun 1997: The Burnden Stand, di ambil dari Embankment. Foto oleh Paul Claydon, Majalah Groundtastic
Sumber : fourfourtwo.com