
PAGI ini, aku menghadiri resepsi pernikahannya. Sebagai seseorang yang
pernah mencinta serta memuliakannya dalam doa, aku tak mampu berkata
apa-apa. Cukuplah batinku mengujar, “Kita telah ditakdirkan untuk
bertemu, bertegur sapa, dan akhirnya saling jatuh cinta. Tapi ada takdir
lain yang datang terakhir, bahwa kita tak bisa saling memiliki meskipun
kita telah berusaha dan berdo’a.” [*]
Ternyata benar, cinta saja tidak cukup mempertahankan seseorang bila
belum diikat dalam pernikahan. Sehingga, saat undangan pernikahannya
datang beberapa waktu yang lalu, aku hanya tersenyum sembari membatin,
pada akhirnya dalam cinta yang sejati, kita akan dihadapkan pada dua
pilihan. Yakni ikhlas bersanding di pelaminan sebagai pasangan nikah
serta siap bertanggungjawab menerima segala kelebihan dan kekurangan,
atau ikhlas datang menjadi tamu undangan sebagai bukti ada seseorang
yang lebih baik menurut perhitungan Allah melakukan pendampingan cinta
sebagai penyempurna cinta baginya.
Tidak ada kekalahan dalam cinta, bukankah tujuan pecinta itu
membahagiakan seseorang yang dicintainya. Bila kebahagiaan itu belum
digariskan Allah melalui tanganku sendiri, maka berterima dengan sepenuh
lapang dada menjadi pilihan paling bijaksana. Melihatnya duduk di
pelaminan dengan senyum kebahagiaan itu sudah menjadi capaian tertinggi
bahwa doa yang selama ini ditujukan tidak salah alamat.
Allah lebih tahu siapa yang lebih pantas mewujudkan kebahagiaan itu.
Tugasku hanyalah menjaga untuk menghargai perasaan yang kusebut sebagai
cinta, dengan cara memantaskan akhlak dan tindak. Bila ternyata
kepantasan akhlak dan tindakku belum dianggap layak, untuk apa dia
memaksakan diri harus memilihku?
Bukankah dalam memilih pasangan hidup hal yang paling penting itu
keyakinan bahwa seseorang yang dipilih bisa melakukan pendampingan cinta
dalam tujuan pembimbingan akhlak dan tindak. Jika kemudian dirinya
merasa aku saja masih dalam tahap belajar, maka bukan sebuah kesalahan
bilamana pada saat dia menemukan seseorang yang sudah tuntas dalam
berkarib ajar diputuskan memilih orang itu dengan harapan siap melakukan
pengajaran.
Dari itu, mendoakan kebahagiaannya adalah kewajibanku. Ada saat di mana
cinta tak harus memilki, tetapi tidak perlu terlalu lama berdiam dalam
kesedihan. Tugasku saat ini hanya meyakinkan Allah bahwa seseorang yang
pernah kucinta itu berhak diberi kebahagiaan oleh pendamping hidup
pilihannya. Aku percaya, setiap mahkluk pasti ditakdirkan
berpasang-pasangan. Bila pun di dunia belum kudapatkan, Insya Allah di
surga-Nya bidadari-bidadari terbaik telah disediakan. Jadi, aku tak
khawatir tidak mendapatkan jodoh setelah kepergiannya.
Daripada meratapi kegagalan cinta, lebih baik kupersiapkan proses
perbaikan akhlak dan tindakku dengan sebaik-baiknya. Saat sudah sanggup
melakukan pengajaran lewat lisan dan perbuatan terhadap segala sesuatu
yang menyaran kebaikan, pada saat itulah aku akan jatuh cinta lagi.
Dengan cara yang lebih baik, tanpa menunda lama langsung mengajak
menikah saja, sebab cukup sekali mengalami nasib sebagai tamu undangan
yang hanya bisa mendoakan kebahagiaan meski pada awalnya seseorang yang
didoakan itulah tujuan awal kebahagiaanku.