
Catatan
Gerhana Matahari Total (GMT) di Indonesia, bisa dilihat sejak 1901.
Meski demikian, NASA sebenarnya punya katalog gerhana dalam lima
milenium. Total, ada 10 gerhana matahari total sejak 1901 hingga 2016,
atau dalam 115 tahun terakhir yang melintas di Tanah Air.
Setidaknya, itulah menurut data yang dimuat di situs badan antariksa Amerika Serikat, NASA, dan Time and Date.
Tak
banyak catatan tentang fenomena alam ini dalam seabad terakhir. R.A
Kartini adalah salah satu orang yang pernah menyinggung GMT pada awal
abad-20 dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar di Belanda. Dalam
surat tertanggal 20 Mei 1901, Kartini menulis dalam bahasa Belanda,
"Pada 18 Mei, ilmuwan dari seluruh dunia datang ke Jawa, untuk mengamati
sang gerhana."
Saat GMT 14 Januari 1926, sebuah ekspedisi dari
Swarthmore College, Philadelphia, Amerika Serikat, melaporkan gerhana
dari Bengkulu (Benkoelen), Sumatera. Seperti ditulis dalam jurnal Popular Astronomy (Volume 34, Edisi Juni-Juli 1926), saat itu penduduk Bengkulu hanya 8.000 jiwa.
Dari
delapan ekspedisi yang mengamati gerhana, lima di antaranya memilih
Bengkulu. Daerah yang kini jadi provinsi di bagian barat daya Pulau
Sumatera itu, dipilih karena menjadi salah satu tempat yang dilintasi
jalur gerhana. Lima ekspedisi itu berasal dari Belanda, Inggris,
Australia, dan dua dari AS.
Ekspedisi Swarthmore College tersebut
menghasilkan 26 foto yang merekam korona saat gerhana terjadi. Tim
ekspedisi pimpinan Dr. John Anthony Miller itu, dibantu enam orang
Belanda yang ada di Bengkulu saat itu. Dr. Miller sempat kembali ke
Indonesia untuk mengamati gerhana pada 1929.
Koran The Pittsburgh Press
pada 9 Mei 1929 melaporkan, kali ini Miller dkk menempatkan
peralatannya di Takengon (Takendon), Aceh. Gerhana saat itu, di
Indonesia, hanya melalui daratan Aceh. Tuan Miller yang meninggal pada
1946 dalam usia 87, menggunakan "kamera" serupa menara dengan tinggi
sekitar 16 meter (53 kaki) yang terdiri dari lensa dan ruang gelap untuk
memproses film.
Para peneliti tak hanya ingin mengamati gerhana,
tetapi juga mencoba memecahkan sebagian teori Einstein tentang
relativitas. Menurut mereka, cahaya yang berbelok karena massa yang
besar seperti kata Einstein, akan membuat posisi bintang terlihat tidak
pada posisi sebenarnya. Bintang yang tersembunyi di belakang Matahari,
tampak seolah berada di sisi Matahari.
Catatan menarik lain
seputar GMT di Indonesia bisa dilihat pada 1983. Saat itu Pemerintah
melarang warga melihat langsung gerhana matahari dengan alasan bisa
menyebabkan kebutaan. Bahkan ada daerah yang membunyikan sirine tanda
bahaya ketika gerhana terjadi.
Namun di balik itu, ada isu tak
sedap yang berkembang. Saat GMT 1983 berlangsung, operasi yang dikenal
publik dengan istilah "Petrus" (penembakan misterius) sedang berjalan.
Alih-alih menjaga keamanan wisatawan asing yang datang untuk menonton
gerhana, pemerintah berburu para pelaku kriminal.
Benedict Anderson dalam bukunya Violence and the State in Suharto's Indonesia (2001), menceritakan
tragedi pada kurun waktu tersebut. Mengutip laporan seorang peneliti
tentang Asia, David Bourchier, Ben mengisahkan pada Maret 1983
pemerintah RI sedang memburu para pelaku kriminal. Pasalnya, tingkat
kriminalitas sedang membubung tinggi.
Kebanyakan target operasi
ini adalah orang yang memiliki tato di tubuhnya. Mereka seringkali
ditemukan tewas di pinggir jalan atau sawah, bahkan di pasar. Warga
kerap menemukan karung berisi mayat pria bertato yang tewas ditembak
atau dijerat lehernya. Konon, sepanjang 1983 hingga 1984, ribuan orang
diduga preman telah dibunuh.
Pada 1995, gerhana matahari total
terjadi pada 24 Oktober. Saat itu, lokasi pengamatan favorit adalah
India, Thailand, atau di Vietnam. Namun, astronom asal Belgia, Patrick Poitevin,
justru memilih pulau kecil di Angges, Sangihe Talaud (Sulawesi).
Wilayah ini adalah satu-satunya daratan di Indonesia yang dilalui jalur
gerhana matahari total, selama kurang lebih 1 menit 54 detik.
Selama
GMT pada 2016, hanya dapat dilihat dari daratan di Indonesia.
Pemerintah kali ini akan menjadikan momen tersebut daya tarik bagi
wisatawan asing. Gerhana yang terlihat dari 12 provinsi di Indonesia
itu, akan dijadikan momentum bagi Kementerian Pariwisata untuk mendongkrak kunjungan pelancong.
Berikut adalah ikhtisar gerhana matahari total yang terjadi sejak 1901-2016 di Indonesia.