Satu abad gerhana matahari total di Indonesia


categories: 

Foto saat Gerhana Matahari Total pada 1983, yang diambil oleh astronom dari National Solar Observatory, Dr Bill Livingston, di Surabaya, Jawa Timur.
Foto saat Gerhana Matahari Total pada 1983, yang diambil oleh astronom dari National Solar Observatory, Dr Bill Livingston, di Surabaya, Jawa Timur.
© Bill Livingston /NSO/AURA/NSF 
 
Catatan Gerhana Matahari Total (GMT) di Indonesia, bisa dilihat sejak 1901. Meski demikian, NASA sebenarnya punya katalog gerhana dalam lima milenium. Total, ada 10 gerhana matahari total sejak 1901 hingga 2016, atau dalam 115 tahun terakhir yang melintas di Tanah Air.

Setidaknya, itulah menurut data yang dimuat di situs badan antariksa Amerika Serikat, NASA, dan Time and Date.

Tak banyak catatan tentang fenomena alam ini dalam seabad terakhir. R.A Kartini adalah salah satu orang yang pernah menyinggung GMT pada awal abad-20 dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar di Belanda. Dalam surat tertanggal 20 Mei 1901, Kartini menulis dalam bahasa Belanda, "Pada 18 Mei, ilmuwan dari seluruh dunia datang ke Jawa, untuk mengamati sang gerhana."

Saat GMT 14 Januari 1926, sebuah ekspedisi dari Swarthmore College, Philadelphia, Amerika Serikat, melaporkan gerhana dari Bengkulu (Benkoelen), Sumatera. Seperti ditulis dalam jurnal Popular Astronomy (Volume 34, Edisi Juni-Juli 1926), saat itu penduduk Bengkulu hanya 8.000 jiwa. 

Dari delapan ekspedisi yang mengamati gerhana, lima di antaranya memilih Bengkulu. Daerah yang kini jadi provinsi di bagian barat daya Pulau Sumatera itu, dipilih karena menjadi salah satu tempat yang dilintasi jalur gerhana. Lima ekspedisi itu berasal dari Belanda, Inggris, Australia, dan dua dari AS.

Ekspedisi Swarthmore College tersebut menghasilkan 26 foto yang merekam korona saat gerhana terjadi. Tim ekspedisi pimpinan Dr. John Anthony Miller itu, dibantu enam orang Belanda yang ada di Bengkulu saat itu. Dr. Miller sempat kembali ke Indonesia untuk mengamati gerhana pada 1929.

Koran The Pittsburgh Press pada 9 Mei 1929 melaporkan, kali ini Miller dkk menempatkan peralatannya di Takengon (Takendon), Aceh. Gerhana saat itu, di Indonesia, hanya melalui daratan Aceh. Tuan Miller yang meninggal pada 1946 dalam usia 87, menggunakan "kamera" serupa menara dengan tinggi sekitar 16 meter (53 kaki) yang terdiri dari lensa dan ruang gelap untuk memproses film.

Para peneliti tak hanya ingin mengamati gerhana, tetapi juga mencoba memecahkan sebagian teori Einstein tentang relativitas. Menurut mereka, cahaya yang berbelok karena massa yang besar seperti kata Einstein, akan membuat posisi bintang terlihat tidak pada posisi sebenarnya. Bintang yang tersembunyi di belakang Matahari, tampak seolah berada di sisi Matahari.

Catatan menarik lain seputar GMT di Indonesia bisa dilihat pada 1983. Saat itu Pemerintah melarang warga melihat langsung gerhana matahari dengan alasan bisa menyebabkan kebutaan. Bahkan ada daerah yang membunyikan sirine tanda bahaya ketika gerhana terjadi.

Namun di balik itu, ada isu tak sedap yang berkembang. Saat GMT 1983 berlangsung, operasi yang dikenal publik dengan istilah "Petrus" (penembakan misterius) sedang berjalan. Alih-alih menjaga keamanan wisatawan asing yang datang untuk menonton gerhana, pemerintah berburu para pelaku kriminal.

Benedict Anderson dalam bukunya Violence and the State in Suharto's Indonesia (2001), menceritakan tragedi pada kurun waktu tersebut. Mengutip laporan seorang peneliti tentang Asia, David Bourchier, Ben mengisahkan pada Maret 1983 pemerintah RI sedang memburu para pelaku kriminal. Pasalnya, tingkat kriminalitas sedang membubung tinggi.

Kebanyakan target operasi ini adalah orang yang memiliki tato di tubuhnya. Mereka seringkali ditemukan tewas di pinggir jalan atau sawah, bahkan di pasar. Warga kerap menemukan karung berisi mayat pria bertato yang tewas ditembak atau dijerat lehernya. Konon, sepanjang 1983 hingga 1984, ribuan orang diduga preman telah dibunuh.

Pada 1995, gerhana matahari total terjadi pada 24 Oktober. Saat itu, lokasi pengamatan favorit adalah India, Thailand, atau di Vietnam. Namun, astronom asal Belgia, Patrick Poitevin, justru memilih pulau kecil di Angges, Sangihe Talaud (Sulawesi). Wilayah ini adalah satu-satunya daratan di Indonesia yang dilalui jalur gerhana matahari total, selama kurang lebih 1 menit 54 detik.

Selama GMT pada 2016, hanya dapat dilihat dari daratan di Indonesia. Pemerintah kali ini akan menjadikan momen tersebut daya tarik bagi wisatawan asing. Gerhana yang terlihat dari 12 provinsi di Indonesia itu, akan dijadikan momentum bagi Kementerian Pariwisata untuk mendongkrak kunjungan pelancong.

Berikut adalah ikhtisar gerhana matahari total yang terjadi sejak 1901-2016 di Indonesia.