Seprei,
kain yang biasa digunakan untuk membungkus kasur, sudah jadi kebutuhan
rumahtangga. Belakangan seprei muncul dengan bermacam varian, bukan
hanya motif tapi juga bahan.
Sufia Buntari, mantan
karyawan salah satu anak perusahaan Kalbe Farma, menangkap peluang
menggarap seprei berbahan dasar kaos. Ide seprei kaos ini diperolehnya
saat tinggal di Jerman. “Saya terbiasa pakai seprei jenis ini di sana,”
ujar dia.
Ketika kembali ke Indonesia sembilan tahun silam, dia
pun kesulitan menemukan seprei berbahan dasar kaos. Karena itu, pada
2013, perempuan yang akrab disapa Tari ini mulai iseng membuat seprei
untuk konsumsi pribadi.
Ternyata seprei buatannya disukai oleh
sejumlah kerabat dan teman. Berawal dari situ, Tari memberanikan diri
untuk berjualan seprei kaos. Dia melabeli produknya dengan nama
Confetti.
Menjual produk kebutuhan rumahtangga seperti
seprei, kualitas jahitan dan bahan juga jadi faktor penting untuk
menjaring pelanggan. “Kelebihan seprei berbahan dasar kaos ini tidak
mudah kusut. Beda dengan bahan katun yang setiap pagi perlu dirapikan,”
ujar Tari.
Bahan kaos yang dipakai Confetti tak semuanya sama.
Sebab, stok bahan kaos ini datang dari beberapa pemasok. “Yang penting
halus dan tidak mudah melar,” pesannya. Maklum, ada beberapa bahan yang
tak punya koleksi warna lengkap.
Tak hanya sehelai kain yang
nyaman, motif juga jadi pertimbangan lain bagi pelanggan memilih seprei.
Maklum, kasur adalah tempat untuk merebahkan diri, melepas penat dan
menghimpun semangat. Tentu saja, bahan dan motif harus sesuai selera
mereka.
Tari punya trik untuk membuat pelanggan lengket dengan
produknya. Dia selalu memperhatikan detail pemotongan kain bermotifnya.
Alhasil, motif itu benar-benar terlihat menarik.
Misalnya, untuk
motif Frozen yang sedang digandrungi, Tari memperhatikan detail
pemotongan tokoh kartun agar tetap terlihat utuh dan pas dalam bentuk
sarung bantal dan guling. Maka, dalam bentuk sarung bantal, Tari
menggunakan gambar yang landscape (mendatar) dan sarung guling, gambar yang portrait atau memanjang ke bawah.
Dalam sebulan, Tari dan Erlin menargetkan ada 10 motif baru untuk anak dan 10 motif baru untuk dewasa.
Rawat penjahit dan agen
Selain
memperkuat kualitas produk, tenaga kerja selalu jadi elemen utama dalam
bisnis padat karya. Sumber daya manusia di bagian produksi, kata Tari,
harus dirawat agar mereka nyaman bekerja dan selalu produktif.
Terlalu
dibuat nyaman pun tak baik karena bisa menggangu produktivitas.
Sedangkan dipecut agar berlari kencang, pun bukan salah satu pilihan.
Untuk
itu, Tari melakukan pendekatan pada karyawan dengan memahami karakter
mereka. Setelah mengerti karakter masing-masing karyawan, akan lebih
mudah memegang kendali dan mengarahkan mereka untuk tetap produktif.
Jika
dalam sebulan ada 600 set seprei, berarti sehari Confetti harus membuat
20 set seprei. Meski begitu, Tari tidak mematok target produksi,
kecuali pesanan membludak.
Tari hanya mematok penjualan di
masing-masing agen. Sepuluh agen yang sudah bergabung harus mampu
menjual minimal 40 set dalam sebulan.
Ini dilakukan agar
penjualan sebanding dengan kemampuan produksi. “Tapi, seringkali agen
top bisa menjual 40-50 set dalam satu minggu,” cerita Tari.
Sebagai
ujung tombak bisnis, merawat agen pun jadi agenda penting di dalam
catatan Tari. Meski masih berbasis kekeluargaan, Tari bilang, dia tetap
memberikan hadiah bagi agen yang bisa menjual melampaui target. Selain
itu, Tari memberikan hadiah jika ada momen khusus, seperti hari raya.
Saat ini, meski Tari baru mempunyai 10 agen tetap, reseller di bawah agen bisa mencapai dua hingga tiga lapis. Dan, dengan penjualan berbasis online melalui aplikasi media sosial, seprei Confetti sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah di Indonesia.
Tertarik ikut memproduksi seprei kaos?