Kehidupan Lima Wasit Legendaris Dunia Setelah Pensiun


categories: 

Apa yang terjadi dengan para mantan pengadil lapangan terbaik dunia pada masanya? FourFourTwo Indonesia mencoba memberitahu Anda lewat artikel ini...

Para pemain profesional ketika menggantungkan sepatu banyak yang meneruskan karier di bidang yang sudah menaikkan namanya di dunia, dengan mengambil peran di belakang layar dari mulai penting sampai sebagai simbol saja. Tidak sedikit juga yang memilih jalan lain, dimana banyak yang meneruskan pekerjaan atau memiliki bisnis yang sudah dirintis ketika masih aktif berlari di lapangan hijau.

Tetapi Sedikit dari penggila bola yang masih memperdulikan figur lain yang memegang peranan sangat penting dalam pertandingan. Siapa lagi kalau bukan wasit. Orang paling berpengaruh dalam memimpin jalannya pertandingan agar semua lancar sedari awal sampai berakhirnya dengan bunyi peluit panjang dari hembusan nafasnya. Berikut FourFourTwo Indonesia berhasil mengumpulkan beberapa kegiatan dari para wasit-wasit legendaris dunia yang semasa masih aktif sering ikut menghiasi layar kaca kita...

Frank De Bleeckere

Jarang ada yang tahu siapa wasit satu ini. Namanya tidak setenar rekan-rekannya sebagai pengadil lapangan hijau, namun dirinya, berdasarkan federasi paling tinggi sepak bola dunia (FIFA), adalah salah satu wasit yang paling konsisten dan mampu menjaga level keputusan se-adil-adilnya.

Dua turnamen internasional besar adalah bukti kapabilitasnya. Dua kali beruntun dirinya terpilih untuk berpartisipasi di Piala Dunia 2006 dan 2010 yang dilengkapi dengan Piala Eropa 2008. Pada Desember 2011 dirinya memutuskan untuk pensiun dan aktif memberikan pengarahan kepada wasit-wasit muda di Belgia. De Bleeckere mendapat titel sebagai pelaksana “Elite Referee Manager and Talent” tetapi sayangnya, program ini harus dihentikan karena kesulitan mendapatkan dana.




Graham Poll

Nama berikutnya yang juga sudah berhenti menjadi pengadil lapangan adalah Graham Poll. Saat masih aktif sebagai wasit dirinya kerap menjadi sasaran para pemain dan penonton dari tim atau klub dirugikan oleh keputusannya.

Contohnya adalah ketika Italia bertemu Kroasia pada Piala Dunia 2002. Keputusannya yang paling kita ingat adalah saat dirinya menganulir gol kedua Azzurri ditambah dengan dirinya yang tidak memedulikan pemain Kroasia yang terjatuh dengan hidung berdarah saat pertandingan berjalan. Setelah pertandingan Christian Vieri menilai kalau Poll adalah wasit kacangan. Kejadian ini lantas membuat FIFA dipertanyakan soal kualitas wasit boleh memimpin turnamen bergengsi.

Lalu di Piala Dunia 2006, dirinya menjadi salah satu kandidat wasit pada babak final, tetapi di pertandingan Kroasia vs Australia dirinya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dia mengeluarkan tiga kartu kuning kepada satu pemain, Josip Simunic sebelum akhirnya pemain tersebut mendapatkan kartu merah. Setelah kesalahannya itu, dia memutuskan untuk gantung peluit dari sepak bola internasional tetapi masih tetap menjadi pengadil lapangan di ajang Premier League. Kini Poll aktif mengisi beberapa kolom sepak bola di berbagai media terkadang juga diundang sebagai komentator.


 
 
Howard Webb

Untuk nama satu ini sudah pasti banyak yang kenal, apalagi para pendukung Manchester United. Meme tentang dirinya banyak beredar di dunia maya setelah banyak keputusannya yang menguntungkan the Red Devils. Komentar-komentar lucu langsung beredar kalau dia adalah antek Sir Alex Ferguson guna menguasai Premier League.

Webb adalah wasit Inggris yang paling terkenal diantara yang lainnya, dirinya dipercaya untuk memimpin pertandingan besar seperti final Liga Champions 2010 dan final Piala Dunia 2010, dimana di pertandingan antara Belanda melawan Spanyol, dirinya mencatatkan 14 kartu kuning, termasuk dua kartu kuning kepada John Heitinga yang membuat pemain tersebut dikeluarkan dari lapangan. Selain itu, dirinya juga memiliki momen terkenal lainnya di partai puncak Piala Dunia 2010 saat Nigel de Jong menendang dada Xabi Alonso, beruntung pemain Belanda tersebut hanya terkena kartu kuning yang seharusnya bisa dikeluarkan seperti Heitinga.

Setelah pertandingan, muncul komentar pro dan kontra. Salah satunya dari Sepp Blatter yang membela Webb dengan mengatakan bahwa tidak mudah untuk memimpin pertandingan dengan tensi tinggi seperti itu. Setelah itu, Webb masih berpartisipasi di turnamen-turnamen besar dunia hingga 2014 dimana dirinya memutuskan gantung peluit setelah Piala Dunia 2014.

Setelah pensiun, Webb aktif di berbagai organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan peran wasit. Jabatan penting sebagai direktur tehnik di Professional Game Match Official Limited dilakoninya termasuk juga menerima pinangan dari federasi sepak bola Arab Saudi untuk menjadi kepala persatuan wasit disana.


 
 
 
Tom Henning Ovrebo

Wasit asal Norwegia ini langsung melambung namanya ketika memimpin laga antara Chelsea menghadapi Barcelona dalam babak semi final leg kedua Liga Champions 2009. Saat itu, Blaugrana tengah diuntungkan lewat peraturan gol tandang, sementara waktu semakin tipis bagi the Blues guna meraih tiket ke final.

Pemain lawan tertangkap melakukan hands ball di kotak terlarang, namun Ovrebo memutuskan untuk diam saja dan tidak memberikan tendangan penalti bagi tuan rumah sampai-sampai Michael Ballack harus berlari-lari mengejar dirinya guna mempertanyakan hal itu. Hingga pertandingan selesai, dirinya terus mendapatkan tekanan dari tuan rumah sampai Didier Drogba tertangkap kamera mengeluarkan kata-kata kasar.

Selang beberapa lama, dirinya mengakui kalau itu adalah kesalahan fatal karena the Blues akhirnya gagal melaju sementara Barcelona sukses menjadi kampiun. Setelah mundur dari dunia profesional pada Mei 2010 ia sibuk dengan praktik psikologis di kampung halaman, sempat juga bekerja untuk tim Olimpiade Norwegia tahun 2012.


 
 
 
Pierlugi Collina

Siapa tidak mengenal dirinya. Figur tinggi besar ditambah mata membelalak tiap kali menjadi pemimpin pertandingan membuat para pemain enggan beradu argumen lama-lama dengannya. Tegas dalam mengambil keputusan yang membuat setiap pertandingan berakhir dengan manis.

Sudah beberapa laga penting berhasil dipimpin olehnya dari skala domestik di negeri Pizza sampai ke regional dan dunia. Bertambahnya usia membuat Collina memutuskan untuk menggantungkan peluitnya yang selama ini akrab di tangan serta mulutnya.

Saat ini dirinya telah berusia 55 tahun dan kini dirinya lebih sering berada di balik layar. Ditunjuk oleh federasi sepak bola Eropa (UEFA) guna menjadi chief refereeing officer.